Akhmad said Hidayat

Menulis adalah bagian dari kebebasan berkespreasi... menulis hal positif adalah karya dan sumbangsih intelektual. tetap berkarya!!!...

Selengkapnya
KESEMPURNAAN

KESEMPURNAAN

I (SATU)

Terbirit – birit seorang anak kecil telanjang, sambil memegang sesuatu yang dia anggap sebagai benda kesayangannya, terus dia berlari menyusuri sebuah hutan yang lebat, tanpa dia tahu kemana tujuannya, dan kemana tempat untuk dia bersinggah, dengan kepolosan tubuhnya tergugah hati alam dan tergugah semua pohon yang tumbuh di hutan tersebut, kemudian sang pisang memberikan dua buah daunnya, yang satu untuk dijadikan pembalut tubuhnya, dan yang satunya dibuat pelindung kepala dikala hujan dan terik panas.

Anak kecil itu seakan kebingungan dan dicampuri rasa takut yang sangat, dan mulutnya selalu berkomat kamit menyebutkan sebuah kata “kemana”, “dimana” dan “siapa”, entah apa yang diharapkan si anak kecil itu, dan entah apa makna yang tersirat dari tiga kata tersebut.

Seiring dengan berjalannya waktu, malampun secara perlahan mengikis siang dan menjadikan alam yang terang benderang menjadi tempat yang kelam dan memberikan sebuah misteri bagi semua alam, bisikan – bisikan daun yang melambai menambah kemisterian alam pada waktu malam, semua hewan telah pulang keperaduannya untuk melepaskan lelah atau untuk bercerita kepada induknya hal ikhwal tentang perjalanan yang melelahkan siang tadi. kesepian itu sangat dirasakan oleh sang anak, dengan tersandar di pelepah pohon, dia hanya pasrah sama nasibnya, hanya kebingungan yang merasuk dan segudang pertanyaan yang tercipta dari tiga kata tersebut, namun kesemuanya tidak bisa menjawab pertanyaan si anak kecil itu.

Alam menyadari keseimbangan merupakan hal pokok yang harus terjadi di alam, mata rantai harus ada untuk melanjutkan kehidupan dan untuk melestarikan keturunan para hewan, namun si anak kecil itu tidak memperdulikan keseimbangan alam dan mata rantai hewan, yang ada dibenaknya dia hanya butuh sesuatu yang dapat menyelematkan dia, muka rautnya dan tubuh yang hanya ditutupi pelepah pisang mengisyaratkan bahwa dia butuh keseimbangan seperti layaknya alam, yang hidup dengan keseimbangan. Dia patah dan dia pincang karena tidak ada yang memberikan dia nafas pada jantung sebelahnya.

Dia turuti alur dari sebuah kehidupan, dan berjalan mengikuti jalan setapak yang dia lihat, walaupun jalan setapak penuh duri, lintah bahkan ular sekalipun dia lewati, dia berkeyakinan alur merupakan jalan yang harus dilalui, dan alur adalah jalan yang tepat untuk dirinya, sehingga dia selalu memaksakan untuk berjalan pada alur itu walaupun si anak kecil itu tidak mampu berjalan.

Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan berlalu, hingga si anak bertemu dengan seorang nenek yang tua renta, di punggungnya seolah – olah terdapat benjolan yang besar, sehingga si nenek itu tidak dapat berdiri sebagaimana mestinya, dia hanya bisa berdiri dengan cara menjongkok, karena benjolan itu yang mempersulit dirinya untuk berdiri tegap, walaupun begitu si nenek masih kelihatan tegar dalam menjalani hidup dan masih tetap punya semangat walaupun tidak sempurna, nenek berkata

“kesempurnaan adalah cara kita untuk membuat sesuatu yang tidak sempurna menjadi sempurna, kesempurnaan adalah cara kita membuat sesuatu yang tidak ada menjadi ada, dan kesempurnaan terlahir dari jiwa yang menganggap dirinya tidak sempurna dan sekuat tenaga berusaha untuk menjadi yang sempurna”

Si anak kecil itu hanya bisa mengernyitkan dahinya seolah – olah dia berpikir keras memaknai ucapan si nenek tadi, dan menganggukkan kepalanya ketika dia ditanya oleh sang nenek tentang kesempurnaan itu, si anak kecil hanya bingung dan mencari hakekat dari penjelasan si nenek tadi, “apa itu kesempurnaan? Bagaimana mendapatkan kesempurnaan itu? Dan apakah aku berhak mendapatkan kesempurnaan ?” pertanyaan itu yang selalu terlintas di benak si anak kecil itu, dengan berjalan tertatih si anak kecil terus menelusuri alur jalan yang ada di depannya, sambil dia berpikir tentang pesan – pesan yang disampaikan si nenek tadi.

Pagi menjelang, matahari menampakkan sinarnya dan tersenyum pada makhluk Tuhan yang ada di bumi, dan matahari selalu memberikan cahaya kepada bumi tanpa adanya imbalan dari bumi, layaknya sang bapak yang selalu memberikan kasih sayangnya kepada anaknya dan layaknya sang ibu yang selalu memberikan double ekstra perhatiannya kepada anaknya, sesekali matahari tertutup awan tebal sehingga sinarnya terhalang oleh awan, dan sesekali matahari menjadi gelap ketika hujan mau turun.

Dari matahari yang terbit pada pagi hari, si anak melihat dengan tercengang, betapa besarnya matahari, betapa jauhnya matahari, betapa dahsyatnya sinar matahari, apakah itu kesempurnaan? Apakah itu tempat dari kesempurnaan ? dan apakah sekarang waktu dari kesempurnaan? Terbesit di benak si anak kecil sambil memegang pelepah pisang yang menutupi sebagian tubuhnya, karena pelepahnya sudah mulai rusak. Ingin mengetahui tentang apa yang dia lihat, tentang sesuatu yang bersinar di waktu pagi dan terus bersinar di waktu siang, akhirnya si anak kecil itu mengikuti arah dari matahari tersebut, walaupun menyimpang dari jalan dan alur yang dia lewati.

Di tengah perjalanan sembari mengikuti arah dari matahari, si anak kecil itu tersentak lalu terkejut, digenggam barang kesayangannya erat – erat, seolah – olah dia sangat ketakutan, dan dia menoleh kekanan dan kekiri, seakan ada seseorang yang mendekatinya, dia bingung dengan hayalan dan imajinya sampai malampun tiba dan si anak kecil tersebut berjalan dengan penuh kekecewaan karena matahari yang didamba – dambakan telah turun keperaduannya, dan si anak kecil tersebut tersentak dan duduk di dekat akar pohon asam, dan tertidur

Keesokan harinya dia dikejutkan dengan keindahan alam yang berwarna – warni, dia tidak pernah melihat ini sebelumnya dan mungkin ini adalah pertama kali dia melihatnya, diusapnya ingus yang ada dibawah hidungnya sambil bersorak – sorai gembira, seakan dia punya semangat baru untuk melangkah dan menjalani hidup, sambil terdengar lantunan suaranya sambil bernyanyi nyanyian yang dia tahu, entah itu nyanyian apa atau hanya suara yang di nadakan,

Ketika dia melihat dan menatap atas apa yang dia tatap, dia ingin kesana dan ingin menemuinya, tanpa berpikir panjang si anak kecil itu langsung terbirit – birit menuju keindahan itu, tapi sayang ditengah perjalanan dia terluka oleh duri yang menghadang dan kakinya pun tertusuk oleh duri yang membuatnya menjerit sekuat tenaga, dan keindahanpun menghilang di hadapannya dan yang muncul kini hanyalah awan tebal dan berselimut asam belerang yang tidak enak bagi pernapasan, sampai – sampai dia tidak bisa bernafas karena kebanyakan asap belerang yang ada disekitarnya, dia pun terengah – engah karena kekurangan oksigen, akhirnya ada wanita separuh baya, wanita itu berpakaian layaknya bidadari yang serba putih, roknya berwarna putih dan panjang, sampai saking panjangnya hingga kakinya tidak kelihatan, dan dia menggunakan baju berwarna putih dengan mahkota dikepalanya dan juga sayap yang ada dibalik punggungnya, lalu dia berusaha untuk membimbing si anak kecil itu, kemudian dengan tersenyum wanita separuh baya itu memberikan sebuah pesan yang isinya :

“Mimpi membuat kita jauh dari kenyataan, tapi kenyataan tak akan ada tanpa impian, jangan mencintai seseorang / benda karena kesempurnaanya, tapi buatlah dia merasa sempurna dengan cinta yang kamu berikan”

Sempat bingung si anak kecil itu dengan kata – kata wanita itu, namun setelah dijelaskan panjang lebar, akhirnya si anak kecil itu mengerti dan mengangguk puas, akhirnya si anak kecil itu bisa membuat dua kesimpulan :

Diam adalah hal yang terbaik untuk menunjukkan sesuatu, dan bicara adalah hal tindak lanjut dari pada diam.

Akhirnya si anak kecil itu merasa lega dan puas, dan melanjutkan perjalanan mencari apa yang dia sendiri tidak tahu apa yang dia cari.

Beranjak bulan ketiga menurut perhitungan masehi dimana perhitungan ini berdasarkan kematian nabi Isa (Yesus) yang dituhankan oleh agama nasrani, dibulan ketiga ini tepatnya pertengahan bulan, si anak kecil itu memperhatikan tubuhnya sendiri dengan memandang dirinya sendiri mulai dari ujung kaki sampai ujung rambutnya, terlihat pusarnya yang masih ada bekas lepasnya tali pusar yang biasanya ada pada waktu anak baru lahir, di pegangnya bekas lepasnya tali pusar itu sembari tersenyum, dan sembari memikirkan sesuatu tentang dirinya, mengapa aku lahir? Untuk apa aku lahir? dan bagaimana aku menjalankan hidup setelah lahir dan juga apa yang terjadi jika aku berada setelah hidup? Hatinya bertanya pada dirinya sendiri, sungguh pertanyaan yang tidak bisa dijawab hanya dengan satu jawaban, butuh penelusuran dan penelitian yang ilmiah, akhirnya dengan berjalan gontai si anak kecil itu berjalan dengan tersayu –sayu, seakan gundah hatinya memberatkan perjalanannya.

II (DUA)

***************************************HORIZON*************************************

Alam telah mengajarkan kita tentang keseimbangan, dimana antara malam dan siang telah diukur kadarnya, antara daratan dan lautan telah diukur luas dan volumenya, antara jarak matahari dengan bumipun telah secara sistematik sempurna peletakan tersebut, angin berhembus untuk mengawinkan bunga – bunga sebagai regenerasi bunga berikutnya, sehingga bisa menebarkan wanginya kepada manusia, bahkan antara hewan dan alampun telah menjaga keseimbangannya, antara ekosistem dengan penghuni ekosistem tersebut terjadi interaksi yang sempurna yang saling berhubungan sehingga terjadi regenerasi yang terus menerus tanpa adanya salah satu individu yang punah, dengan adanya rantai makanan hewan terus bisa bertahan hidup, inilah trik alam dan hewan untuk bertahan hidup yaitu dengan cara mempertahankan keseimbangan.

Keseimbangan adalah suatu proses yang saling memberi dan saling menerima diantara kedua individu, kedua populasi atau kelompok, sehingga antara individu dan populasi atau kelompok bisa saling mempertahankan hidup, jadi dengan demikian keseimbangan merupakan faktor mutlak bagi alam dan hewan untuk mempertahankan hidup, jika demikian adanya, bagaimana dengan si anak kecil itu ? apakah si anak kecil itu bisa mendapatkan keseimbangan? Sedangkan keseimbangan merupakan faktor mutlak bagi si anak kecil itu untuk mempertahankan hidup?

“jadikanlah engkau penyeimbang dan jangan jadikanlah engkau sebagai yang diseimbangkan, biar engkau bisa menyeimbangkan rotasinya, dan janganlah engkau bertanya tentang dimana keseimbangan tapi bertanyalah siapa yang menyeimbangkan dan jadikanlah dirimu sebagai lantunan ayat dari keseimbangan alam”

III (TIGA)

Diujung dunia terdapat suatu keabadian, dan diujung dunia penentu segala baik dan buruk, diujung dunia adalah lanjutan dari apa yang kita pijak, dan diujung dunialah kehidupan yang sebenarnya dimulai. Banyak dari kita terlena dengan apa yang kita lihat dan apa yang kita rasakan untuk saat ini, padahal apa yang kita rasakan dan apa yang kita lihat pada saat ini belum tentu menunjukkan yang sesungguhnya, itu hanya fatamorgana yang menyesatkan dan kesemuanya itu bisa menipu. Indah dirasakan pada hakekatnya belum tentu indah, manis yang dikecap belum tentu manis yang dirasakan, inilah sumber dari kekeliruan manusia yang hanya melihat sesuatu dari apa yang dilihat bukan melihat dari makna yang dilihat.

Si anak kecil itu mencoba untuk mengerti tentang apa yang dirasakan dan makna apa yang dirasakan itu, dengan mengernyitkan alisnya si anak kecil itu masih belum tahu tentang apa hakekat dari hidup dan hakekat dari makna tersebut, mungkin dia masih kekanak - kanakan untuk mengerti semua arti dari hidup dan mungkin dia masih terlalu polos untuk mengerti tentang makna dan hakekat dari apa yang dia rasakan. Sambil menggaruk – garukkan kepala si anak kecil itu melihat pada sesuatu dimana sesuatu itu sangatlah indah, dan menggugah hati, sesuatu itu berwarna kemerah – merahan dengan berbentuk seperti mahkota yang sangat indah, di ujung atasnya terhias oleh berlian – berlian yang mengkilau, dan seluruh tubuhnya terlapisi oleh emas 24 karat, ohh! Begitu indahnya sesuatu itu, biasanya orang – orang menyebut benda itu dengan “Nur Crown”, Nur crown tersebut menyala dan berpijar ketika malam hari dan mengeluarkan udara sejuk dikala siang, tertarik si anak kecil untuk mendekatinya, dan untuk melihat lebih dekat. Namun disekeliling nur crowen itu terdapat duri – duri yang sangat tajam yang bisa menusuk apa yang mendekatnya, namun anak kecil itu tidak peduli sama duri yang ada disampingnya dan berkata si duri :

“Hei si anak ingusan, aku tidak tega menusukmu, karena kamu terlalu polos untuk disakiti, janganlah engkau mendekat kepadaku, nanti kamu menangis tersedu karena aku telah melukaimu, sebaiknya sebelum kamu terluka jauhilah itu dan carilah nurcrown yang lain, masih banyak nurcrown yang lain yang lebih indah dari ini”

Tak peduli si anak kecil mendekati walaupun duri telah mendekat, dan akhirnya si duri itu dengan sangat terpaksa menusuk kaki si anak kecil itu, namun anehnya si anak kecil itu tidak merasakan kesakitan malah semangatnya bertambah, sambil memejamkan mata si anak kecil itu ingin mengambil nurcrown tanpa disadari bahwa setelah duri yang mengelilingi ada sebuah jurang yang sangat dalam, dan akhirnya si anak kecil jatuh kedasar jurang itu, remuk tubuh si anak kecil itu dan tidak ada seorang pun yang bisa menolong, dia hanya bisa menangis menyesali nasibnya, hanya benda kesayangannya yang menjadi teman, semua orang tidak bisa menolongnya karena tidak mendengar jeritannya, tangisan itu diibaratkan sebagai gaungan burung hantu pada malam hari yang seolah merindukan sesuatu namun sesuatu itu tidak akan pernah ada.

Dalam gelap dan dinginnya malam, dan juga disertai hujan deras, si anak kecil itu menggigil kedinginan, jurang yang dalam telah mengisolasi si anak kecil itu, hanya bisikan angin yang selalu menyertainya, katakanlah hai anak kecil bahwa kamu telah menjadikan dirimu sebagai budak dari keinginanmu, jadikanlah keinginanmu sebagai budak dari dirimu, jagalah hatimu sebagai pelindung dari dirimu, karena dirimu sangatlah berarti untuk masa depanmu,

Kemudian tertegun si anak kecil mendengar bisikan itu lalu seakan dia berusaha untuk selalu bangkit dan meninggalkan semuanya, meninggalkan keinginan dan meninggalkan semua hasrat yang ada dalam dirinya. Akhirnya si anak kecil itu berusaha untuk keluar dari jurang itu, segala cara telah dia lakukan, mulai dari menaiki jurang itu, sampai mencari tali kemudian dilemparkan keatas dan kemudian memanjat tali itu, namun semuanya gagal. Hujan semakin deras, hanya lantunan musik padang rumput yang selalu menghiasi kesunyian, terkadang disela – sela kesunyian malam terdengar suara kodok yang sahut menyahut antara kodok yang satu dengang kodok yang lain, menambah kegembiraan para kodok, si anak kecil itu terus berusaha, namun semakin berusaha si anak kecil itu belum jua berhasil, hingga akhirnya dia seakan putus asa dan pasrah menunggu malaikat penolong yang akan menolongnya, sambil bersandar di tumpukan tanah didalam jurang itu, dia meratapi nasibnya, begitu malangnya dia, air matanya pun bercucuran, sambil berguman dan sembari menyayikan sebuah lagu untuk menghilangkan sesaknya :

Laut lepasku, hari demi hari

Aku bagaikan orang gila yang selalu menanti

Dari berbagai harapan yang aku nanti

Dan segala harapan hati.

Wherever you go

What ever you do

I will be right here waiting for you

(Posted by richard marx’s song)

Hanya lagu itu yang membuat hati si anak kecil itu tenang, dengan tubuh yang menggigil si anak kecil itu mencoba untuk kuat dan mencoba untuk selalu tetap bertahan, tanpa seorang pun yang menemani, dingin yang dirasakan si anak kecil itu begitu hebat, hingga bibirnya pun membiru karena tergigil kedinginan, dengan sekuat tenaga si anak kecil itu mengambil sisa daun pisang yang terbaluk ditubuhnya yang dijadikan sebagai penutup tubuhnya untuk dijadikan pelepas rasa dingin, namun dinginpun tidak jua hilang, hanya dalam sela – sela melantunkan lagunya dia selalu berbisik ibu, ibu, ibu dan ibu, seakan dia rindu pada sesosok ibu yang melahirkan dia yang melepaskan tali pusarnya hingga terbekas didaerah pusarnya. Tak lama kemudian muncullah seorang malaikat kecil menghampirinya, wajahnya begitu anggun, dengan sayap mungil di punggungnya menambah keanggunan si malaikat kecil itu, seketika sianak kecil itu berangjak dari tempat duduknya, “siapa kau?” tegas si anak kecil bertanya, “aku adalah malaikat kecil yang akan menolongmu”. Jawab si malaikat kecil. “benarkah?” jawab si anak kecil itu dengan sedikit khawatir, dalam rangkulan si malaikat kecil, si anak kecil itu terbawa keluar dari jurang itu, dan kemudian si malaikat itu hilang entah kemana. Si anak kecil itu bingung, kemanakah si malaikat kecil itu, si anak kecil itu mencari dan memanggil – manggil dengan sebutan dhedhe’, dhedhe’.....dhedhe’....dhedhe.....! dimanakah kau berada? Apakah aku akan kehilanganmu, tiba – tiba bayangan malaikat itu nampak tegar dengan lantunan lagu yang keluar dari mulutnya, dengan tersenyum ramah dia menyambut panggilan si anak kecil itu dengan senyum yang manis di setiap tingkahnya, di belai rambutnya yang hitam dan dilantunkan lagu yang mesrah, seakan si anak kecil itu sudah mulai menemukan jati dirinya dan sudah menemukan teman yang bisa menemani si anak kecil itu suka maupun duka.

Kekeliruan dalam berlabuh adalah hal yang paling fatal dalam hidup, kekeliruan dalam menilai merupakan hal yang sangat ditakuti oleh si anak kecil itu, entah si dhedhe’ akan pergi untuk selamanya atau akan tetap menemani si anak kecil itu?

Alam memberikan segalanya dan alam memberikan pelajaran bagi kita untuk selalu berpikir tentang rahasia – rahasia yang diberikan oleh alam, indah dilihat dan nikmat terasa jika kita bisa mengartikan apa yang tersirat dibalik kandungan dan nilai – nilai alam.

IV (EMPAT)

Jiwaku adalah lantunan lagu yang selalu memberikan keindahan bagi orang yang mendengar. Jiwaku adalah puisi yang selalu memberikan isyarat dan makna tersirat dalam butiran – butiran sajaknya. Jiwaku adalah embun yang selalu memberikan air – air syurga dalam setiap tetesnya, dan jiwaku adalah matahari yang selalu memberikan kehangatan di seluruh tubuhmu.

Enggan ku berlari dan enggan kuterucap dikala aku bernostalgia pada hati nurani, karena hati nurani merupakan cermin diri yang terkadang tertutup oleh keegoisan diri. Dalam hal ini sifat egois merupakan tempaan dari nafsu yang selalu mengajarkan kekeliruan dalam berpikir.

Angin sepoi – sepoi, menggulung – gulung laut di pantai, hingga pasir – pasir pun terhias oleh indahnya malam, sambil berlari berkejar – kejaran seakan menambah kemesraan alam yang ditunjukkan, bulan purnama menghiasi malam dengan senyumannya seakan melihat semua yang ada di alam, hingga ku berlari terbirit untuk memberikan secercah kehangatan pada seseorang yang berada disana tanpa siapa – siapa.

“Akankah aku bisa menemanimu?” kutegaskan padanya, ia menggelengkan kepala, dengan menggelengkan kepala ia mengisratkan bahwa ia tidak mau untuk ditemani, namun dengan begitu, sebenarnya ia merasakan kesepian, karena si malaikat kecilnya tidak ada di sampingnya, dia selalu memikirkan hal – hal yang indah yang terjadi antara si dia dengan si malaikat kecilnya, seakan – akan dia sudah terasuk dan jiwanya sudah berada pada si malaikat kecil itu. Enggan dalam hatiku untuk bercerita tentang hal ikhwal kenapa dia bisa selalu memikirkan si malaikat kecil itu. Karena mungkin situasinya kurang tepat.

Berjalan sendirian di tepi pantai dengan ombak yang bergulung – gulung menambahkan rasa keterharuanku pada si anak kecil itu. Dengan keibaan yang mendalam ku haturkan senyumanku untuknya, dan kulambaikan tanganku seraya memberikan isyarat bahwa aku tidak ingin meninggalkannya, namun si anak kecil itu menggelengkan kepala dengan sangat erat dan berlari kepelukanku, hingga diriku berkata :

“aku adalah jiwamu yang terpendam dalam lika – laku hidupmu, dan aku adalam ragamu yang selalu menemanimu dimanapun kau berada, aku adalah mahligaimu yang selalu menemanimu suka maupun duka, ku persembahkan ragaku untukmu dan ku berikan yang terbaik buatmu, janganlah kau bersedih, karena engkau telah bertemu dengan jasadmu, wahai rohku”

Dengan menangis tersedu, akhirnya si anak kecil itu diam seribu bahasa, dan menatap wajahku, aku terenyuh melihat kepolosan hatinya,

“wahai rohku, jangan kau tatap aku memelas seperti itu, karena aku adalah ragamu, berikanlah aku semangat untuk selalu menjalani hidup, dan berikanlah aku hari – hari baru untuk selalu tetap dalam lingkaran kehidupan”

Dan kupeluk erat rohku sehingga bersatulah aku dengan si anak kecil itu dalam satu badan yang kuat dan juga teguh.

V (LIMA)

Pagi yang dingin, dengan embun menetes di setiap pagi, tat kala burung – burung masih enggan untuk keluar mencari sesuatu untuk mengenyangkan isi perutnya, dan tatkala rumput – rumput masih kedinginan disiram dan diguyur oleh tetesan embun, matahari seolah – olah malu untuk menunjukkan mukanya, seakan – akan dia bersembunyi dibalik awan, awan tebal menyelimuti, sehingga keadaan sekitar terlihat remang – remang, namun kesibukan alam sekitar juga sudah mulai menunjukkan kesibukan, termasuk si anak kecil itu yang selalu mencoba mensibukkan diri walaupun hanya ingin menghabiskan waktu – waktu yang dia rasakan sendiri.

Namun didalam kesibukannya terdapat awan menyelimuti dirinya dan petir selalu menakut – nakutinya, hingga dia merasa takut untuk keluar, dengan memeluk barang yang disayangnya dia berteduh di bawah pohon mangga, sambil menunggu awan dan petir berhenti mengganggunya, hujan pun ikut serta menggangu aktifitas si anak kecil, dengan sangat terpaksa si anak kecil itu pulang keperaduannya, sambil mengusap ingusnya yang ada dibawah hidungnya, sianak kecil itu mematung sambil mengingat kenangan – kenangan yang dilalui oleh si dhedhe’, sambil tersenyum si anak kecil itu kemudian dia tertidur pulas, di tengah tidurnya dia bermimpi ada seorang laki – laki yang gagah perkasa, yang berpakaian persis dengan pakaian dhedhe’nya, laki – laki itu langsung menghampiri si anak kecil itu dengan tegas dia bilang :

“Aku adalah kamu, jadi kamu bisa merasakan perasaanya aku, jadi saya mohon, jangan rusak apa yang sudah aku punya, mahligaiku telah kutanam, jangan kamu ganggu dengan percikan api yang menyala”

Si anak kecil itu terbangun, dengan bercucuran keringat dingin, dia mengeryitkan alisnya, seolah – olah dia tidak mengerti apa makna dari mimpi tersebut, hanya dia selalu bertanya – tanya, apakah aku punya salah,? Apakah si dhedhe’ sudah terpetik oleh kumbang? Atau mimpi itu hanya lelucon belaka? Paras si anak kecil itu menampakkan kekecewaan dan juga kebingungan, tak ada jawaban dan tak ada satu orangpun yang mengerti, dengan sekuat tenaga dia berteriak sekeras tenaga namun tidak ada seorangpun yang peduli sama si anak kecil itu,

Dengan bersimpuh pasrah dia berdo’a kepada Tuhan yang menciptakan dia dan juga yang mengatur segala urusan si anak kecil itu :

Alhmadulillah Ya Tuhan, Engkau telah memberikan yang terbaik buat hamba, tapi hamba pada saat ini masih belum bisa menerima keputusanMu. Selalu ku berharap seorang permaisuri datang keharibaanku, dan selalu ku berharap seorang pendamping datang di sampingku, tapi keputusanMu ternyata lain dari apa yang hamba harapkan, hamba sadar, hamba tidak bisa berbuat banyak, hamba hanya bisa pasrah menerima semua keputusanMu, kuatkanlah hamba untuk selalu tegar dalam menjalani hidup. Dan berikanlah hambaMu ini pendamping yang sholehah, hamba berharap banyak kepadaMu ya Allah, ku gantungkan semua jiwa dan raga hamba kepadaMu Ya Allah. Amiennnn!

Hamba yakin engkau pasti bersama hamba, dan selalu melindungi hamba dan juga selalu ngejagain hamba, karena hamba adalah hamba yang lemah, tidak berdaya disini Ya Allah, berikanlah hamba kesadaran tentang artinya hidup dan berikanlah hamba kekuatan untuk selalu bisa ngejalanin hidup,

VI (ENAM)

Pagi, dingin tak ada sinar mentari dan langitpun terlihat mendung datang lagi

Dan aku berdiri diatas pohon yang tinggi, memandang suasana alam ini

Pagi, sunyi tak ada burung bernyanyi kulihat embunpun kini telah terkontaminasi

Dan aku sendiri bagaikan tak mengijak bumi, diantara ramainya emosi diri yang semakin ternodai

Posted : slank’s song (Jakarta Pagi ini)

Itulah argumen yang selalu dilantunkan oleh si anak kecil untuk meringankan beban si anak kecil itu, sembari bersedekap untuk mengurangi rasa dinginnya, si anak kecil terus bersua pada alam, walaupun alampun telah mencelanya, tapi dibalik kesemuanya itu alam adalah bagian dari hidupnya.

Ingin dia tinggalkan kehidupan alam dan memulai hidup baru, tapi dia bingung, kemanakah dia harus pergi, sedangkan hanya alamlah tempat tinggal si anak kecil itu, hanya alamlah yang bisa menerima dia apa adanya,

Terus melangkah si anak kecil menusuri jalan setapak yang penuh duri dan penuh hewan yang berbisa, langkah kakinya begitu hati – hati dan begitu pelan untuk menghindari dari sengatan – sengatan hewan berbisa dan tusukan duri, si anak kecil itu tidak ingin tertusuk oleh duri apa lagi tergigit oleh ular berbisa.

Ditengah perjalanan dia menemukan seorang gadis kecil bertubuh mungil, unik terlihat, dengan lantunan suaranya yang begitu khas terasa, tersenyumlah si gadis kecil itu ke arah si anak kecil itu, sambil tertunduk malu si anak kecil berusaha untuk mendekatinya, namun setelah si anak kecil itu mendekat, ternyata di sekeliling si anak kecil terdapat jaring – jaring yang dipenuhi oleh ular yang begitu berbisa, rasa takut kembali menghantui si anak kecil, namun senyuman si gadis kecil itu memberanikan si anak kecil itu untuk terus mendekat tanpa memperdulikan bahaya yang ada disekitarnya.

VII (TUJUH)

Angin sepoi – sepoi membelai seluruh daun yang ada di muka bumi, seakan tak jemu – jemu angin menggoda dedaunan, sehingga dedaunan ikut tergoda akan kegombalan sang angin yang hanya hinggap pada pucuk – pucuk dedaunan. Seketika itu muncullah segerombalan awan yang gelap, dimana membuat sinar matahari menjadi hilang untuk sementara, dan rombongan awan gelap tersebut melingkarkan tangannya dan mendekapkan tubuhnya ke tubuh si bumi, hingga bumi tidak bisa berbuat apa – apa, dan seketika segerombolan awan itu menurunkan tetesan air yang bersih yang bisa dimanfaatkan oleh bumi, dan bisa diminum oleh semua manusia, dan juga bisa dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ditengah – tengah aktivitasnya segerombolan awan meneteskan tetesan air terkadang awan juga mengeluarkan kilatan listrik yang maha dahsyat yang orang – orang menyebut sebagai petir, dimana petir itu merupakan kumpulan listrik yang voltagenya bisa mencapai beribu – ribu watt, bisa dibayangkan bagaimana seandainya listrik dengan voltage yang begitu tinggi itu menyentuh benda yang ada dimuka bumi ini, tentunya akan terbakar dengan sekejap. Namun petir juga bisa bermanfaat bagi kelangsungan hidup terutama kelangsungan hidup manusia, dimana dengan petir tanah bisa menjadi subur, dan manusia bisa memanfaatkan tanah yang subur sebagai tempat menanam pangan, dan pangan tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia sehari – hari.

Dalam lamunan tentang alam itu menunjukkan bahwa disetiap kejadian yang pahit terdapat hikmah yang sangat berarti, seperti contoh diatas, awan seolah – olah sebagai tokoh antagonis dimana awan seakan – akan ingin menyakiti bumi tapi sebenarnya awan tersebut justru memberikan kehidupan bagi bumi, dan juga petir, dengan sengatannya bisa membunuh dan membakar apa saja yang terkena cambukan si petir, namun kesemuanya itu adalah untuk memberikan kehidupan bagi bumi juga, nah....! hal tersebut merupakan pantuman atau cermin bagi kita manusia untuk selalu sadar bahwa segala kejadian buruk belum tentu buruk dan juga sebaliknya kejadian baik belum tentu bisa bermanfaat.

Kejadian ini dirasakan oleh si anak kecil, dimana si anak kecil tersebut, tidak kunjung menemukan jati dirinya, hingga dia stress ataupun frustasi, dia hanya bermain dengan alam mayanya atau dengan imajinya, hingga suatu saat dia tidak mampu untuk hidup di alam nyata dimana alam nyata adalah tempat hidup baginya, tempat sesungguhnya dan tempat dimana ia harus berpijak, bagi dirinya alam nyata sangatlah kejam, dengan peran seperti si anak kecil itu, anak kecil itu tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanan karena dia terlalu lemah, sedangkan di alam nyata banyak sekali terdapat kemunafikan dan kejujuran hampir sudah mulai pudar, dan si anak kecil itu merasa takut untuk hidup dan menatap masa depan, dengan imajinya dia merangkai – rangkai suatu kehidupan dimana kehidupan alam mayanya dia rangkai sedemikian rupa dan dia susun sedemikian hingga hingga terciptalah istana dan permaisuri di istana maya.

Istana maya? Apakah istana maya itu? Istana maya adalah sebuah imaji dari si anak kecil itu, dimana didalam istana maya itu terdapat kemegahan – kemegahan yang tidak pernah ada di muka bumi ini, dan kedamaian, kebersamaan, cinta, kasih dan sayang terdapat disana.

Menurut imaji dari si anak kecil itu didalam istana maya itu terdapat lorong – lorong yang dibuat sedemikian rupa, dimana lorong itu terbuat dari emas dan juga tercampur oleh berlian, dan berlian itu merupakan simbol dari keharmonisan istana maya.

Di istana maya terdapat pelayan – pelayan yang begitu ikhlas dan begitu tulus mengabdi pada istana maya, dan juga masyarakat – masyarakat tersebut sangatlah harmonis, dimana kebersamaan sangatlah dijunjung tinggi, tidak ada pertengkaran, tidak ada penghianatan dan tidak ada kemunafikan.

(sekilas tentang dunia maya)

Cinta dan kasih sayang telah memperdaya si anak kecil, hingga si anak kecil tidak berani untuk menatap bentuk dari cinta dan kasih sayang tersebut, banyak pujangga berdalih bahwa cinta itu indah, terus bagaimana dengan cinta dari si anak kecil itu ? apakah sekarang cinta itu berubah yang semula indah menjadi tidak indah ? apakah ada yang salah dengan cinta atau si anak kecil itu yang salah mempersepsikan cinta ?

Terkadang cinta diibaratkan sebagai sang angel yang selalu mengekapkan sayapnya dikala kita kedinginan dan memberikan garis indahnya ketika kita berada dalam keadaan suka, cinta telah mengukir perjalanan hidup manusia, mulai dari manusia pertama yang diciptakan sampai punahnya kehidupan pasti selalu diiringi oleh cinta, keharmonisan dalam cinta sangat senergi dengan kehidupan manusia, dan tidak bisa dipungkiri kalau cinta selalu terlekat dalam kehidupan manusia, tak jarang jika cinta selalu menjadi rumor yang paling menarik untuk diperbincangkan

Si anak kecil mungkin telah mendapatkan cintanya lewat alam maya, dimana disana dia telah memperoleh kedamaian dan cinta yang didamba – dambakannya, namun secara harfiah dia keliru telah mengartikan cinta, dan tidak sanggup untuk menjalani hidup. Hidup memang kejam, namun kekejaman hidup merupakan hal simbolis dari kehidupan dunia, tidak ada dunia jika kekejaman tidak ada, namun penetralisir dari kesemuanya adalah cinta, tidak ada yang salah dengan cinta, yang salah adalah orang yang menggunakan cinta yang selalu menyalahgunakan cinta sebagai acuan dari jati diri mereka.

Dalam hati sang anak kecil terbesik :

“aku tidak percaya akan lantunan cinta di dunia nyata, aku tak perduli akan harum dan ranumnya cinta di dunia nyata, kenyataan telah membuktikan kepadaku bahwa cinta di dunia nyata pada hakekatnya hanyalah bencana yang terbungkus oleh lemah lembutnya keindahan semata”

Penulis mengerti apa yang dirasakan oleh anak kecil tadi, bahwa si anak kecil itu trauma akan kejadian yang telah dialami oleh dirinya, banyak penderitaan yang dia rasakan dalam mengejar cinta, dan banyak kesengsaraan yang dia rasakan dalam mengejar cinta, menurut si anak kecil cinta hanya malapetaka yang diciptakan dan hanya bisa terlena sesaat, sedangkan hal ikhwal dari keabadian sama sekali tidak terlekat oleh cinta.

Tertegun si anak kecil sembari merasakan apa yang dia rasakan pada saat ini, dalam terlenanya dia dalam buaian istana maya, terdapat sedikit keganjalan dihatinya, apakah ini yang ada di hatiku? Apakah ini yang diharapkan oleh hatiku? Dan apakah cita – cita dan jari diriku sudah tercapai? Apakah aku sudah berada pada puncak kesempurnaan? Dimana aku bisa mencapai nirwana dengan begitu mudahnya? Pertanyaan ini selalu terbesit dalam diri si anak kecil itu,

Dalam sajian – sajian di istana maya, si anak kecil itu terlena sehingga dia tidak peduli dengan dunia nyata, sehingga dia tidak sempat untuk merawat dirinya, karena dia anggap tubuh itu adalah bagian dari dunia nyata, jadi apapun yang berbau dunia nyata dia tidak mengubrisnya walau sedikitpun.

Hari demi hari telah berlalu, minggu demi minggu telah berlalu, hingga akhirnya tubuh si anak kecil itu bagaikan tubuh tak berdaging, hanya tinggal tulang yang terbungkus oleh kulit, tubuh mungilpun sekarang telah menjadi tulang benulang yang hidup, dimanakah sang anak kecil itu? Sang anak kecil yang penuh semangat dalam menjalani hidup? Apakah sianak kecil itu telah putus asa dalam menjalani hidup?

Tubuh kecil itu sekarang telah menjadi teman bagi ulat – ulat nakal, yang selalu menggigit bagian – bagian tubuh si anak kecil itu, dimana ulat – ulat itu menari – manari diatas tubuh si anak kecil itu dengan berleha – leha. Senang dan sumringah wajah ulat karena ada makanan yang empuk yang ada diharapannya, walaupun tubuh si anak kecil itu dimakan ulat, namun bagi anak kecil itu seakan tidak ada apa – apa, dia tidak merasakan sakit ataupun ngilu karena tubuhnya di makan oleh ulat, yang dia rasakan sekarang hanya kesenangan dan kesenangan yang ada di dunia maya, dia merasakan hampir tiap waktunya selalu ada yang menemani dan selalu ada yang menyayangi. Begitu indahnya istana maya sehingga si anak kecil itu terpesona dan terhipnotis akan keindahannya yang mungkin hanya ada didalam angan – angan si anak kecil itu, hingga si anak kecil itu terpuruk dan begitu terpuruk dalam jurang yang sangat dalam hingga dia jatuh kembali kedalam jurang yang ada didalam jurang itu. Namun ironisnya si anak kecil itu tidak merasa kalau dirinya sudah terjatuh ke jurang yang sangat dalam, mungkin si anak kecil itu sudah terlena akan keindahan istana maya, atau mungkin si anak kecil itu sudah tidak peduli lagi pada jasadnya karena menurut dia jasad adalah bagian dari dunia nyata, dan semua yang ada di dunia nyata itu adalah bentuk kejahatan yang terbungkus dengan keindahan termasuk juga tubuhnya.

Keindahan yang ada di dunia itu hanyalah keindahan semu, dan keindahan yang sesungguhnya hanya terdapat pada hati kita, hati adalah sumber dari segalanya, si anak kecil adalah salah satu contoh dalam mencari keindahan yang hakiki, dan dia mungkin telah menemukan apa itu keindahan yang hakiki, walaupun pada hakekatnya si anak kecil itu mengalami depresi dalam hal hidup, hingga dia melarikan diri dari dunia nyata, karena menurut dia kehidupan maya jauh lebih indah dari pada dunia nyata.

“Sesungguhnya terdapat dua hal dalam mencapai keindahan yang hakiki, yang pertama adalah merasakan keindahan diwaktu kesulitan, dan menikmati keindahan diwaktu datang keindahan itu sendiri”.

VIII (DELAPAN)

Semakin terpuruk merupakan kerugian yang besar bagi si anak kecil, semakin terhina, dan semakin tidak menentu arah dan tujuan si anak kecil itu, hingga sekarang dia mulai merasakan apa yang dia rasakan, dia sudah mulai merasakan betapa sakitnya tubuhnya yang telah dimakan ulat dan belatung, betapa nistanya dia yang telah menghinakan dirinya sehingga dia jatuh ke jurang yang paling dalam, dan si anak kecil itu sudah mulai merasakan bahwa tidak ada senyata istana kecuali tempatnya dia berpijak, istana maya hanyalah khayalan, yang bisa datang dan juga bisa pergi sebegitu juga, dan istana maya hanyalah reruntuhan dari hati yang tidak bisa dan sanggup untuk menempuh hidup atau menjalani hidup, istana maya hanyalah bagian dari frustasi belaka, dan istana maya tercipta bagi orang – orang yang kurang mensyukuri apa yang telah ditakdirkan.

Sesuatu yang terlihat baik, pada hakekatnya belum tentu baik, dan sebaliknya sesuatu yang terlihat jelek, pada haketnya belum tentu jelek, dan kesemuanya pasti ada hikmah atau ada yang tersirat dibalik kesemuanya itu. Kepahitan yang dirasakan si anak kecil itu merupakan pelajaran yang bermakna dan pelajaran yang tak ternilai harganya, karena dengan pengalaman itu si anak kecil mulai mengerti tentang apa itu hidup, dan bagaimana cara untuk hidup dan dimana alur kehidupan, semuanya telah dipelajari pada peristiwa – peristiwa yang telah dialami si anak kecil itu, akhirnya si anak kecil itu terbangun dari tidur panjangnya dan merusak semua lamunan tentang istana maya, sesekali dia merintih kesakitan, namun dibalik kesemuanya itu dia tetap bersyukur bahwa kejadian inilah yang terbaik bagi dirinya, dan kesemuanya ini sudah direncanakan oleh sang pencipta agar si anak kecil itu sadar bahwa apa yang terjadi merupakan pelajaran yang bisa dia ambil hikmahnya.

Dengan segenap daya si anak kecil itu mulai bangkit, sambil tertatih – tatih dia mulai berusaha untuk keluar dari jurang itu, walaupun sulit dan masih terasa sakit, namun tekadnya bulat, hanya ini yang bisa dia lakukan, berusaha – berusaha dan berusaha, setelah keluar baru menjalani hidup baru kata itu yang selalu terhias dimulut si anak kecil itu, hidup baru? Ia, dia ingin memulai hidupnya dengan lembaran baru, dimana didalam hidup baru ia ingin menciptakan hidup yang nyata, dimana semasa hidupnya ia ingin mengabdi dan mempersembahkan jiwa dan raganya untuk alam dan juga untuk apa yang membutuhkan.

Ketulusan itu dia ambil dari pelajaran – pelajaran yang telah dialami sendiri, dan kejadian – kejadian yang telah membuatnya bangkit, maka dari itu bagi kalian yang pernah patah hati dan pernah disakiti jangan pernah merasa kalian disakiti, rasakanlah sebagai bentuk pengabdian kepada Allah untuk selalu bersabar, karena bersabar merupakan kekuatan yang maha dahsyat dan tidak akan pernah ada kekuatan dahsyat kecuali dahsyat dari sabar dan juga bertawakkallah kepada Allah yang maha pemegang urusan.

REPOST : Postingan Facebookku pada tanggal 9 November 2010

https://www.facebook.com/notes/akhmad-said-hidayat/kesempurnaan/152383604806504/

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali